KENAPA HARGA KARYA SENI SANGAT MAHAL?

Kenapa harga karya seni sangat mahal? Lukisan Le rêve karya Pablo Picasso. Pict credit to studiolegelatorino.com

Art is freedom, being able to bend things most people see as a straight line - Unknown

Hai kalian, gimana kabarnya?

Hari ini ngapain aja nih? Kalau Saya antar Adik untuk ujian. Bagusnya cuaca hari ini cukup berawan, jadi enak dibuat jalan kaki. Padahal emang biasanya kalau ke kampus ya jalan kaki juga, bukan, bukan mau jadi SJW, tapi emang lebih irit aja. Haha..

Selagi nunggu, karena bosan, disamping gedung ada beberapa pohon bambu, kemudian jadi ingat soal instalasi seni bambu di bundaran HI yang jadi perdebatan dikalangan netizen. Pas dicari beritanya, ternyata menurut situs Guratanku karya seni yang diberi nama getah-getih ini sudah dibongkar. (untuk ke berita bisa langsung klik aja ya)

Yang bikin polemik itu bukan karya seninya, tapi anggaran yang dikeluarkan Pemprov DKI untuk instalasi seni tersebut yang mencapai 500-an juta. Harga yang fantastis untuk sebuah karya seni? ya nggak juga sih. Biasa aja.

Terlepas dari itu, banyak yang bilang bahwa harga segitu hanya untuk seni bambu ga sebanding atau overprice. Banyak yang mencoba menghitung ongkos produksi dengan membandingkan harga bambu saat ini.

Pertanyaannya adalah, apakah pasar seni sama dengan pasar lainnya dan apakah produk seni bisa diberi harga sebagaimana barang normal? Apa yang membuat karya seni menjadi begitu mahal?

Kenapa Harga Karya Seni Sangat Mahal?

Karya seni getah-getih karya Joko Avianto lainnya. 

Kalau dipikir-pikir, bener juga ya, kenapa sebuah karya seni bisa mahal? kenapa misal karya seni bambu harganya nggak bisa kita tebak hanya dari harga bahan dasar untuk produksinya saja?

Kok bisa juga lukisan Picasso yang diberi nama Le Rêve atau The Dream ini dihargai $139 juta Dollar. Terkedjoet adek terheran-heran. Jiwa misqueenku bergejolak bahkan kalau harus bayar gofood tanpa promo ongkir yekan... 

Oke, jadi gini ya setelah baca.. barang seni itu nggak masuk kategori barang normal, saat ini karya seni mungkin bisa dikategorikan sebagai barang prestise. Cara menghitung ongkos produksinya juga nggak sekonyong-konyong tinggal hitung harga bahan dasar saja, misal untuk instalasi karya seni bambu, kita nggak bisa estimasi harga karya seni hanya dengan melihat harga bambu di pasar. 

Cara menghitung karya seni nggak sejelas produk lain dimana harganya bisa ditentukan dengan menghitung marginal revenue dan marginal cost.

Kalau menurut Annayu Maharani, seorang pelaku seni;

Kalkulasi penciptaan seni memang tidak bisa menggunakan kalkulasi ongkos produksi biasa, biaya yang besar itu ya untuk membiayai kerja intelektualitas seniman, karena disana ada konsep dan konteks yang mau diusung, alih-alih hanya tereduksi sebagai hiasan bambu.

Eh tapi nggak semua karya seni mahal ya, banyak juga yang ya biasa aja. Contohnya lukisan karikatur yang suka ada ditempat-tempat wisata. 

Permasalahannya adalah pasar karya seni itu unik. Harga karya seni sangat dipengaruhi branding, konsumen biasanya melihat brand sebagai jaminan bahwa barang itu bagus. Misalnya aja LV, Gucci, Hermes, dan lain sebagainya. 

The issue is that demand for art is not distributed evenly among all living artists. Instead, many people are going after a small number of artists. That's what's driving up prices. - Olav Velthuis -

Nah, penjelasan Annayu Maharani dan Olav Velthuis sudah sangat clear tentang kenapa harga karya seni terus naik dan mahal. Selain memang kreatifitas dan ide itu mahal, pasar untuk seniman sukses itu sangat terbatas, dengan pembeli serius yang terbatas juga. Makanya sifatnya itu The Winner Take All. 

Sebetulnya kalau mau di breakdown lagi panjang deh, punggung udah mulai sakit nih kelamaan duduk, kalian baca sendiri aja lah ya. Thanks lho udah baca sampai selesai.. 

Sumber bacaan :

You Might Also Like

1 komentar

  1. Good artikel gan.....asyik ni buat baca baca artikelnya

    Salam musikterapdate

    ReplyDelete

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"