GIRL TALK: MENGENAL PREMENSTRUAL SYNDROM (PMS)



If women run the world we would not have wars, just intens negotiations every 28 days  -Robin Williams-


Hai, gimana kabarnya? semoga selalu sehat ya. Hayoo siapa diantara kalian yang lagi mens? Pasti pernah dong denger atau bahkan ngerasain langsung gejala PMS.

Yup, siapa sih yang nggak tahu istilah prementrual syndrom (PMS)?
PMS merupakan kombinasi beberapa gejala yang biasanya dialami oleh perempuan setiap satu atau dua minggu sebelum menstruasi.

Menurut Office on Women's Health (OWH), 90% perempuan mengaku mengalami gejala PMS seperti kembung, sakit kepala, dan perubahan suasana hati. Untuk beberapa perempuan mungkin gejalanya akan sangat parah sampai mereka harus bolos dari tempat kerja atau sekolah, dan sebagian lain mungkin hanya mengalami gejala PMS ringan. Kamu kelompok mana nih?

Tapi kalian pernah nggak sih bertanya-tanya, apakah gejala-gejala tersebut benar ada secara medis atau cuma sugesti aja?

Well, ternyata sudah banyak yang meneliti nih guys, yuk kita bahas bareng!

Yuk Mengenal PMS

Kalian pernah mengalami PMS nggak? tenang, karena lebih dari 75% perempuan pada tahun-tahun produktifnya menyatakan bahwa mereka pernah mengalami PMS. 

PMS ini meliputi gejala somatik dan gejala afektif. Nah gejala somatik itu misalnya merasa sangat lelah, sakit, ada perubahan nafsu makan, dan kurang bertenaga. Sedangkan gejala afektif meliputi perubahan suasana hati, menjadi lebih sensitif, gelisah, depresi, dan bertindak impulsif. 

Sayangnya, lebih dari 10% perempuan dengan gejala PMS mengalami gejala PMS yang parah, atau yang biasa dikenal dengan sebutan premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Menurut American Psychiatry Association (APA) perempuan yang mengalami PMDD kemungkinan besar bisa mengalami episode depresi berat. 

Makanya nih, para peneliti punya hipotesis bahwa PMS dan PMDD itu berhubungan dengan depresi. 

Apa Benar PMS dan PMDD Berhubungan dengan Depresi?

Pict credit to Gfycat.com

Penelitian mengenai hubungan PMS dan PMDD dengan depresi ini diteliti oleh Hoyer dkk, mereka ini peneliti dibidang kognitif neurologi. 

Dalam penelitiannya, Hoyer menyatakan bahwa PMS dan PMDD bisa menjadi indikator bahwa perempuan tersebut sedang mengalami episode depresi berat. 

Kenapa bisa begitu?

Pada dasarnya belum ada penelitian yang menyatakan hubungan antara PMS dan PMDD secara jelas. Tapi PMS dan PMDD punya kesamaan, yaitu perempuan yang mengalami gejala PMS dan PMDD mengalami reaksi abnormal terhadap perubahan hormon seksual yang terjadi selama siklus menstruasi. 

Reaksi abnormal tersebut diakibatkan oleh faktor genetik dan psikososial seperti pernah mengalami kekerasan seksual atau lingkuhan sekolah, rumah, maupun kerja yang membuat stress dll.

Selain itu, disregulasi dari axis pada hormon hipotalamik-pituitary-adrenal menunjukkan adanya gangguan depresi mayor yang dipercaya memiliki peran penting dalam menginduksi kesedihan. 

Nah, sekarang sudah tahu kan kalau ternyata faktor hormonal, genetik, dan psikososial memang membuat perempuan yang mengalami PMS dan PMDD menjadi lebih sensitif, impulsif, sedih, bahkan kadang depresi tanpa sebab selama masa menstruasi.

Oh ya, apa sih yang kalian lakukan kalau mengalami gejala PMS supaya merasa lebih baik? share pengalaman kalian di kolom komentar ya! 


OWH - Premenstrual syndrom
Hoyer dkk (2013) - menstrual cycle phase modulates emotional conflict processing in women with and without prementrual syndrom (PMS) - A pilot study

You Might Also Like

3 komentar

  1. Wah dengan artikel ini setidaknya saya dapet ilmu mengenai gejala pms kaum wanita,,makasih kakak artikelnya mantap

    ReplyDelete
  2. Nambah lagi nih ilmunya ..biar nanti pas sudah berkeluarga lebih tau ene

    ReplyDelete
  3. begitulah nasip menjadi perempuan, hehe... setiap bulannya mengalami PMS..

    ReplyDelete

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"