MENTAL TALK: SHARING PENGALAMAN PERGI KE PSIKOLOG


Pict credit to sdhao.org

Hai, gimana kabarnya?

Mau cerita nih, tadi pas lagi nge-youtube satu video dengan judul "Apa Kamu Depresi?" muncul di feed Aku. Hal menarik dari video tersebut ga terletak di video-nya, tapi di kolom komentar. Mereka yang komentar rata-rata anak SD sampai SMA.

Hampir 90% mengaku bahwa berdasarkan hasil jawaban video tersebut mereka termasuk kategori abu-abu dan hitam  dengan kata lain mereka masuk dalam golongan depresi. Mirisnya, masalah mereka nggak ringan, banyak dari mereka yang cerita kalau selama ini mereka jadi korban bully, pemerkosaan, sampai korban perceraian kedua orang tua.

Dari data Kementerian Kesehatan tahun 2016 lalu ada sekitar 36 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofernia, dan 47.5 juta terkena dimensia. Itu yang terdata lho, dan anak-anak yang komentar di youtube itu bahkan nggak menerima atau diajukan untuk dapat pelayanan kesehatan mental.

Dengan fakta seperti itu, menariknya isu kesehatan jiwa ini masih dianggap remeh bahkan tabu oleh banyak orang. Banyak banget dari kita yang nggak tahu cara mengatasi depresi atau berhadapan dengan orang yang depresi.

Ngutip kata-kata Frank Warren,

Everyone has at least one secret that would broke your heart.

Jadi tujuanku bikin postingan ini adalah berbagi sedikit pengalaman terapi setelah sempat ikut sesi konseling. Harapannya, kita bisa lebih aware sama keadaan diri sendiri maupun keadaan orang-orang dilingkungan kita, terutama mereka yang kita sayangi. Selain itu, semoga informasi ini bisa membantu kita untuk hidup dengan lebih baik dan lebih sayang sama diri sendiri dan orang-orang disekitar kita. Much love xoxo..

Btw sedikit curhat, sebagai mahasiswa Aku pribadi ngerasa biaya ke psikolog itu relatif mahal. Rata-rata ngebandrol 250-350 per sesi (satu sesi sekitar 1-1.30 menit) dan itupun psikolog yang jam terbangnya belum terlalu tinggi, dan kita nggak bisa ke psikolog hanya untuk satu sesi. Minimal 6 sesi biasanya.

Kenapa aku bilang gitu? karena sebelum tahu soal konseling, dulu mikirnya ke psikolog cukup satu kali. Cukup cerita dan di hipnosis dan voila.. lupa deh sama masalah. Ternyata nggak gitu gengs Haha..

BTW bacanya sambil denger lagu ini ya supaya semangat lel...


Kenapa Aku Memutuskan Untuk Pergi ke Psikolog?


Ceritanya panjang banget, tapi intinya waktu itu aku udah ngerasa stuck dan kaya mayat hidup, cerita tentang masalahku ke orang lain dirasa nggak memungkinkan pada waktu itu, bukan karena nggak percaya tapi karena rasa takut dan masalahnya terlalu berat.

Waktu itu yang aku rasakan adalah mood swing parah, nangis hampir setiap saat, nggak mau keluar kamar, makan juga sekedarnya kalau emang udah bener-bener menggigil.

Sebelum ke psikolog Aku baca beberapa artikel untuk memperbaiki kondisiku saat itu. Dari banyak artikel yang dibaca, ada banyak banget saran bagus untuk terapi supaya keadaan kita lebih baik misalnya dengan menyusun agenda kegiatan sehari-hari, menyusun target-target ringan yang mudah tercapai untuk meningkatkan self esteem, olah raga, sampai menulis diary.

Semua itu dicoba, untuk beberapa saat membaik tapi kemudian ada suatu kondisi yang bikin keadaanku makin buruk. Selama beberapa bulan terutama bulan-bulan terakhir sebelum ke psikolog Aku ngerasa kaya zombie. Ya keadaanya kaya yang aku jelasin diatas.

Waktu itu nggak ada yang tahu soal kondisiku ini, karena Aku bukan tipe orang yang gampang curhat ke temen, bukan juga tipe orang yang suka bikin status di media sosial soal kondisiku, jadi wajar kalau temen sampai keluarga ga ada yang sadar.

Saat kondisinya makin buruk dan punya perasaan udah nggak sanggup lagi itulah akhirnya Aku memutuskan untuk ke psikolog sebagai ikhtiar terakhirku untuk bertahan. Berhasil atau enggak at least  ya sudah mencoba.

Waktu itu, tujuanku ke psikolog selain sebagai upaya "pengobatan" tapi juga upaya preventif, jadi kalau terjadi sesuatu, bakal ada catatan tentang kejadian yang aku lalui sampai ada ditahap ini. 

Setelah sekitar 6 sesi dan melewati beberapa uji psikologis yang melelahkan akhirnya keluarlah diagnosis medis bahwa Aku mengalami PTSD atau (post traumatic stress disorder). 

Eh i'm okay now, and i hope you too.. 

Nah, di postingan selanjutnya akan Aku ulas sedikit tetang gejala PTSD silahkan di cek ya!

You Might Also Like

0 komentar

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"