Skandal Facebook: Bagaimana Kuis Kepribadian Mengambil Datamu?

Skandal Facebook. Pict credit to Techprivacy

Dari kemarin rasanya random banget akibat kebanyakan nonton youtube. Normalnya yang ditonton adalah program Hello Councelor, The Return of Superman, Food Vlog, Daily vlog dan kawan-kawannya. Kali ini justru nonton soal skandal Facebook, yang tiba-tiba muncul di suggestion. 

Orang bilang, bad news is a good news. Jadi, siapa sih yang nggak tertarik sama apapun yang berbau skandal. Oleh karena itu mari nikmati video skandal yang hanya berdurasi dua menit ini (note: kalau kalian mau lengkap lihat video US Congressional Hearing) :




Video tersebut membahas skandal Facebook mengenai data penggunanya yang bisa sampai ke tangan Cambridge Analytica (CA). Laporan awal menyebutkan bahwa data yang sampai ke tangan CA mencapai lima juta data user dan satu juta data teman dari setiap user yang diambil datanya.

Pada Rabu, 11 April 2018 channel youtube CBC news meng-upload rekaman U.S. Congressional Hearing terkait masalah keamanan data pengguna facebook. Diketahui pada laporan terbaru, data yang sampai ke tangan CA mencapai 87 juta data pengguna Facebook.

Permasalahan selanjutnya adalah, data apa saja yang diambil dan dengan cara apa CA mendapatkan data tersebut?

Platform Facebook dan Bagaimana Quiz Kepribadian Mengambil Datamu


Awal mula ceritanya adalah saat Facebook meluncurkan platform baru dengan visi membuat banyak apps lebih sociable. Misal nih, kalendar yang bisa memperlihatkan tanggal ulang tahun teman, alamat yang bisa memperlihatkan foto tempat kita tinggal, dan hal lain semacam itu.

Untuk mencoba apps tersebut, saat log on pengguna harus menyetujui kesepakatan untuk dapat membagikan informasi mengenai temannya.

Tahun 2013 seorang peneliti dibidang Psikologi, Aleksandr Kogan, membuat apps berupa quiz kepribadian. Saat itu apps tersebut diinstal oleh sekitar 300.000 pengguna.

Bagaimana kuis kepribadian mengambil datamu. Pict credit to Playbuzz

Kalau melihat platform Facebook saat itu, siapapun yang menginstal apps artinya telah menyetujui kesepakatan dengan pihak developer apps untuk memberikan mereka hak akses terhadap data akun pengguna, sekaligus memberikan akses terhadap data sepuluh juta temannya (walaupun temannya ini nggak instal apps tersebut).

Tahun 2014, Facebook mengganti platformnya dan membatasi data pengguna yang dapat diakses oleh developer aplikasi seperti Kogan. Selain membatasi data pengguna yang bisa diakses developer, platform baru ini juga hanya memperbolehkan developer mengakses data teman pengguna yang sama-sama menginstal aplikasi tersebut.

Pada tahun yang sama, Kogan merubah term and conditions apps-nya dari "riset" ke "pengguna komersil" menggunakan platform Facebook.Inc, dan saat itu pihak Facebook sama sekali tidak menyatakan keberatan terhadap poin-poin yang diajukan Kogan mengenai peraturan appsnya.

Saat itu, dalam term and conditions, perusahaannya jelas menyatakan bahwa pengguna menjamin hak perusahaannya untuk menggunakan data dalam lingkup yang luas, termasuk menjual dan melinsensi data.

Artinya siapapun pengguna yang log in dan menggunakan apps tersebut telah menyetujui poin-poin yang diajukan oleh Kogan. 

Kogan juga menyatakan bahwa semua pernyataannya dibuat dalam platform Facebook.Inc dimana perusahaan sosial media tersebut memiliki kemampuan penuh untuk me-review apps-nya.

Kemudian pada tahun 2015, Kogan diketahui telah membagikan data dari appsnya ke Cambridge Analytica. Hal ini melanggar kebijakan Facebook sehingga Facebook meminta Kogan dan Cambridge Analytica untuk menghapus seluruh data pengguna yang mereka miliki.

Permasalahan ini kompleks, karena Kogan melanggar Terms and Conditions Facebook, disisi lain pengguna juga (secara sembrono) telah menyetujui hal tersebut dan menggunakan apps yang dibuat Kogan.

There's No Such Things As Privacy

Facebook privacy policy. Pict credit to Steemit

Jadi begini ceritanya...

Pada tahun 2013 lalu, seorang peneliti dari Cambridge membuat mesin sederhana untuk mempelajari dan memprediksi informasi personal dari pengguna Facebook. Penelitian ini dilakukan secara agregat.

Mereka bisa mengetahui karakter, gender, orientasi seksual, masa lalu pengguna, orientasi politik, bahkan bisa mengetahui apakah pengguna tersebut berasal dari keluarga yang bercerai atau menggunakan obat-obatan terlarang.

Semua itu bisa diketahui hanya dengan menganalisa likes yang diberikan seseorang terhadap suatu isu. Perlu diingat lagi bahwa pada tahun 2013 platform Facebook masih memperbolehkan kita melihat aktivitas teman Facebook (likes dan komentar) secara bebas.

Surprisingly, hasil prediksi tersebut memiliki akurasi yang tinggi, kecuali mengenai informasi masa lalu pengguna. Mereka melakukan itu semua hanya dengan sebuah likes. 

Kita mungkin nggak ingat apa yang pernah kita likes, tapi Facebook menyimpannya semua jejak kita.

Satu hal lagi, kita harus sangat hati-hati membaca privacy policy jika ingin menggunakan atau berkontribusi pada suatu hal yang membutuhkan izin akses terutama terhadap data personal. 

Tapi mungkin aja ya mungkin, untuk saat ini privasi adalah sumberdaya yang harus dikorbankan untuk menikmati produk-produk globalisasi.
Kalau menurut kalian sebagai pengguna Facebook gimana? Share Yuk!
______

Sumber bacaan:

Pernyataan Mark Zukenberg
Bloomberg: Apps Developer Kogan Defends His Actions with User Data
What your facebook 'likes' really says about you
Theguardian: how cambridge analytica turns your facebook likes into a lucrative political tool

____________________
Beware of Privacy Policy guys...
....Nonetheless, we may sell, transfer, or otherwise share some or all of our assets in connection with a merger, acquisition, reorganization, or sale of assets of our business, or in the event of bankruptcy.  These assets may include the user data collected as described above.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Wah ngeri juga ya kalo sampai kebobolan datanya

    ReplyDelete

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"