Dampak Arus Pasar Tenaga Kerja: Baik atau Buruk?


Pict credit: labour exploitation

Dear blog dan siapapun yang baca..

Hari ini thor.. ehm baca sesuatu. Bukan, bukan mau cerita menye-menye kok! Jadi hari ini thor nggak sengaja download jurnal nih, judulnya:

Measuring the impact of labour using a model of billateral migrations. (Terrie L. Walmsey dkk)

Overall, jurnalnya sih ngomongin soal arus migran (pasar tenaga kerja) dari negara berkembang ke negara maju dan sebaliknya, yang tentu aja tenaga kerja ini bisa kita bagi dalam dua kelompok yaitu skilled dan unskilled. Nah sebelum bahas lebih jauh, enaknya kenalan dulu sama istilah-istilah yang dipakai disini.


Apa sih yang dimaksud Negara Maju, Negara Berkembang, Skilled Labour, dan Unskilled Labour?


Makanan apaan tuh negara berkembang sama negara maju? pakai ada skilled dan unskilled labour lagi. Nah kalau negara berkembang itu istilah aja sih yang biasa dipakai untuk menunjukkan negara dengan tingkat kesejahteraan rendah. Misalnya aja negara-negara di asia tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dll.

Kalau negara maju itu buat menunjukka negara dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Misalnya nih, negara-negara di Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis, dll.

Tebak-tebakan hayooo.. Cina termasuk negara maju atau berkembang? 

Lantas kita lanjut keee......

Apa itu yang skilled labour? sesuai namanya ya itu tenaga kerja terampil, biasanya sih mereka kerja sebagai konsultan, staf ahli, manager, dan pekerjaan lain yang butuh keahlian khusus.

Kalau unskilled labour itu ya sebaliknya, gitu aja kok bingung. Haha. Jadi kalau unskilled itu biasanya yang kerjanya jadi pemborong. Bukan, bukan pemborong kontraktor yang dimaksud disini. Yang dimaksud disini adalah orang yang mau kerja apa aja. Gak lucu kan punch line nya? emang!

Biasanya unskilled labour ini kerja untuk jadi pembantu rumah tangga, buruh dipabrik, atau pekerja lain yang semacam itu dan nggak membutuhkan keahlian khusus. (padahal buat bebersih butuh keahlian dan kesabaran tinkat dewa ya, apalagi kalau ngebersihin apa yang udah orang lain berantakin)

Oke skip..


Terus dimana bagian menarik dari baca jurnal??


pict credit: chuck n fun


Pertanyaannya cukup sulit ya.. jurnal menarik? menarik dong, tapi untuk baca itu rasanya ehm.

Jadi gimana? jurnalnya ngebosenin?

Woitsss jangan salah, baca jurnal = obat tidur. Kita belum sempat merasa bosan aja udah tidur duluan kalau baca jurnal.

Sampai satu titik thor baca kalimat yang kurang lebih gini:

Melancongnya atau perginya tenaga kerja terampil dari negara berkembang ke negara maju bisa kita katakan sebagai brain drain. Hal ini mengakibatkan penurunan potensi pendapatan pajak, mengurangi output, menyebabkan gap pendapatan, bahkan menurunkan level rata-rata kemampuan sumber daya manusia disana.

Kenapa bisa menurunkan potensi pendapatan pajak? ya karena mereka kerja disana, menghasilkan uang disana, mandi disana, ngupil disana, bayar pajaknya ya di negara tempat mereka kerja dong.

Terus kenapa bisa mengurangi output? ingat ya kalau kita mau menghitung output dari segi pengeluaran itu rumusnya Y = C + I + G + NX. Dimana C itu konsumsi, I itu investasi, NX itu net expor atau expor - impor.

Jadi contohnya nih, kalau misal ya si juned orang Indonesia dan kerja di Belanda, nggak mungkin dong juned kalau mau makan kudu balik ke Indonesia dulu? ya pasti makan di Belanda, beli kutang sana, beli cilok disana. Otomatis konsumsi yang harusnya di Indonesia malah di Belanda dan konsumsi kita berkurang dong? jadi total output atau Y-nya juga akan berkurang.

Begitu nggak? barangkali thor salah silahkan dikritisi lewat kolom komentar. Tapi dibalik itu produktivitas si tenaga kerja yang keluar negeri ini bisa menghasilkan yang namanya beneficial brain drain. 


****

Menarik? menarik banget. Haha.  Thor tiba-tiba ingat topik disertasi salah satu dosen pembimbing skripsi Thor dulu. Dia lagi giat bahas peran diaspora indonesia, entah si terhadap apa. Tapi dosen thor ini pernah cerita kalau pembimbingnya bilang kayaknya peran diaspora Indonesia belum terlalu berpengaruh deh ke Indonesia (baca dari status facebooknya sih gitu).

Jadi buat thor sejumput kalimat diatas itu bikin thor tertarik, apa bener peran diaspora Indonesia gak begitu berpengaruh? dan penelitian Terrie Dkk ini mungkin bisa sedikit ngasih gambaran dan jawaban pertanyaan tersebut.

Oh ya, penelitian Terrie Dkk mengelompokkan berbagai negara berdasarkan kekuatan ekonominya atau berdasarkan kedekatan wilayah, kayaknya sih. Haha. (Nanti kalian cek aja jurnalnya dibagian source ya).

Ehm nggak usah dibahas satu per satu partnya ya, langsung ke kesimpulan aja:

Mengirimkan tenaga kerja tidak terampil atau unskilled labour ke negara maju akan meningkatkan kesejahteraan warga tetap negara berkembang sebesar $US4.60 dollar per orang. Tapi akan kehilangan kesejahteraan sebesar $US1.35 dollar per orang dari hasil mengirimkan tenaga kerja terampil. 

Ingat ya, dia nggak ngebahas spesifik suatu negara, tapi kelompok negara, jadi kita nggak bisa berasumsi di Indonesia juga berlaku demikian.

Dia pakai general model equilibrium sih nelitinya.

Dan kalian tau apa hal paling menarik? Kira-kira hasil penelitian ini mendukung atau mematahkan hecker ohlin model coba?

Jadi sekian cerita malam ini. Semoga tidur nyenyak.


source (bisa didownload lho) :
Measuring the impact of labour using a model of billateral migrations. (Terrie L. Walmsey dkk)


You Might Also Like

3 komentar

  1. Wah dapat ilmu baru lagi ni. Saya baru tau kalau perginya tenaga kerja terampil ke negara maju berdampak menurunkan potensi pendapatan pajak. Makasih kak infonya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama ipuul makasih udah baca u.u terhura

      Delete
  2. Negara Indonesia mau dibikin bagaiamana pun tetap gak bakal maju ..
    Sebab politik kepiting itu masih menjadi nurus andalan dalam berpolitik.

    ReplyDelete

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"