APA PERSAMAAN KAMU DENGAN PDB? SAMA-SAMA NGGAK SENSITIF TAPI MASIH JADI FAVORIT DI HATIKU

Dikit-dikit PDB, dikit-dikit PDB, hadehhh
Apa persamaan antara kamu dan PDB? Sama-sama nggak sensitif. Eugh.. 


Hola, cómo estás? No me puedo quejar. HAHAHA. 

Anyway guys, kemarin Jeda menghadiri seminar, bukan seminar umum, tapi lebih ke seminar doktoral. Kebetulan nih, bahasan seminarnya tentang perdagangan luar negeri. It somehow remind me of how I suffered years ago from international trade subject, my head just can't. 

Tapi-tapi apa hubungannyee Produk Domestik Bruto (PDB) sama itu seminar? bertanya-tanya kan kalian? 

Topik seminarnya tentang apakah ada efek kedekatan wilayah terhadap ekspor impor pada satu komoditas di wilayah ASEAN. Jawabannya jelas ada secara teoritis dan praktis. Kita bisa bayangin, dari mulai biaya kirim, tingkat kepercayaan, dan lain-lain you named it, it's obvious, tapi menurut Jeda kalau dianalisis dengan baik, ini cukup menarik. 

Tapi kalau Dosen Jeda yang dulu hadir di seminar ini pasti udah bilang gini, "Ngapain You meneliti sesuatu yang sudah pasti jawabannya?"

Sungguh ingatan masa lalu yang mengerikan. hahaha.

Nah, selama seminar, Jeda punya beberapa catatan terutama pada model yang dibangun, disana ada PDB, dan kebetulan komoditasnya beras yang mana di beberapa wilayah ASEAN termasuk makanan pokok. Jadi menurut Jeda, variabel PDB ini nggak punya efek berarti ke ekspor-impor beras, atau kalaupun ada mungkin transmisinya agak jauh alias efeknya nggak langsung. Dibandingkan PDB, variabel konsumsi beras per kapita dan produksi beras di suatu negara, makanan pokok negara tersebut, dan real exchange rate mungkin lebih sensitif dan relevan untuk menjelaskan kenapa sih suatu negara harus impor/ekspor beras, daripada variabel PDB. 

Dengan kata lain, terlepas dari besar atau kecilnya PDB suatu negara, kalau produksi beras lebih rendah daripada konsumsinya, mau nggak mau untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dalam jangka pendek pasti impor dong? apalagi makanan pokok negara tersebut adalah beras. Ya masa ujug-ujug orang disuruh makan singkong semua, kan nggak bisa gengs. Lain hal kalau sedikit-sedikit diubah, mungkin dalam jangka panjang kita bisa cuma makan umbi-umbian. 

Dari sisi negara eksportir, kalau semisal beras jadi salah satu makanan pokok, kalau produksinya surplus dia juga bakal kalkulasi berapa kuantitas yang akan diekspor, yang jumlahnya nggak akan menyakiti kebutuhan dalam negerinya. 

Disitu Jeda mulai berpikir kayaknya PDB ini terlalu banyak digunakan untuk penelitian-penelitian yang sebetulnya ga butuh-butuh amat variabel itu, yang bikin variabelnya semakin tidak sensitif, walau sejak awal variabel ini memang ga bisa dibilang sensitif. Salah satu yang hobi banget pakai variabel PDB di segala jenis penelitian adalah Jeda sendiri saat baru belajar ekonomi. Hahaha. 

Apa sih ni orang ngomongin sensitif dan nggak sensitif mulu? wkwkw maaf maaf.

Jadi gini contohnya ya, kita mau ngomongin pembangunan, pembangunan tuh apa aja sih? kan ada pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dll. Untuk bidang kesehatan, pembangunan bidang kesehatan ini kita bisa lihat dari life expectancy, infant death rate, jumlah ibu yang mendapat layanan kesehatan masa awal kehamilan misal. Biasanya, di penelitian-penelitian ekonomi, sering tuh nyempil PDB/PDRB jadi variabel independen yang mempengaruhi misal life expectancy. 

Padahal PDB punya banyak komponen ada konsumsi, investasi, belanja pemerintah, ekspor impor (Y = C + I + G + M - X). Menurut kalian, apakah PDB yang terdiri dari banyak komponen itu mampu menjelaskan kenapa life expectancy orang Indonesia bertambah? Bisa jadi, tapi nggak bisa secara langsung menjelaskan karena dari PDB itu (misal) cuma ada satu komponen yang nyambung banget, yaitu pengeluaran pemerintah dalam bentuk alokasi APBN/D untuk bidang kesehatan/program kesehatan tertentu).

Analoginya, misal fakultas ekonomi nih. Di dalam fakultas ekonomi terdapat banyak jurusan misalnya akuntansi, manajemen, dan ekonomi pembangunan. Apakah karena seseorang teridentifikasi sebagai mahasiswa fakultas ekonomi pasti bisa menjelaskan tentang ekonomi pembangunan? belum tentu, supaya dapat jawaban yang kita butuhkan, lebih pas kalau tanya sama orang yang terdaftar di fakultas ekonomi dengan jurusan ekonomi pembangunan.

Bisa nggak tanya soal ekonomi pembangunan sama mahasiswa fakultas ekonomi jurusan manajemen? Ya bisa aja, permasalahannya apakah mereka menguasai teori dan isu dibidang tersebut? nggak, karena mereka nggak belajar ekonomi pembangunan. Ini yang Jeda maksud nggak sensitif atau dalam hal ini kurang relevan. Sama kaya data, data bisa jadi nggak sensitif untuk menjelaskan sesuatu karena memang seharusnya ga digunakan untuk menjelaskan hal tersebut. 

Dalam kasus diatas misal mau melihat pembangunan bidang kesehatan, daripada pakai data PDB/PDRB kalian bisa gunakan data seperti APBN/D yang dialokasikan untuk program tersebut misal alokasi layanan kesehatan dasar, ini biasanya ada di Renstra Kementerian/Dinas, ini bakal lebih bisa menjelaskan peningkatan angka harapan hidup dibandingkan pakai data PDB/PDRB, walaupun ya tetap terbatas juga tapi lebih relate lah kalau kata anak jaman sekarang. 

Bukan berarti PDB ini nggak bagus ya, dari sekian banyak data, PDB ini yang paling sering diperbaharui dan datanya selalu tersedia, tapi kita harus mempertimbangkan, sebetulnya ada nggak sih data lain yang bisa dijadikan proksi untuk variabel kita. 

Udah dulu deh, kapan-kapan bahas PDB lagi yes. Ciao.. 

Btw kalau bingung soal model ekonomi, jeda pernah nulis tentang pengertian model ekonomi. Semoga bermanfaat!





You Might Also Like

0 komentar

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"