Bayang Jingga Senja Istimewa




Aku selalu menunggu senja. Senja yang tak dapat sedikitpun disamakan dengan senja lainnya. Senja tercantik yang hanya muncul saat cuaca tak begitu bersahabat. Aneh bukan?!. Entahlah, ku pikir, uhmm, mungkin orang lain pikir sama seperti senja lainnya. Tidak bagiku, karena dialah senja yang selalu kunanti. Ketika bias jingga selalu nampak lebih indah.
Terlebih jika dia tertempa bias jingga itu. Ya!, hal yang paling menyenangkan saat jingga itu tiba adalah kehadirannya. 10 tahun lalu, aku selalu berdo’a.
“Tuhan, akankah kau biarkan aku merasakan perasaan petani itu?”
*****
Kawan, apa  kau pikir kau benar-benar tau apa yang dirasakan petani itu?, Tidak!.
Karena dia berbeda. Dia selalu menangis ketika panen tiba. Ketika padi-padi itu makin merunduk dan terus merunduk. Kau pikir dia senang menebas gemulai tarian ilalang yang dia jaga sejak berbulan lalu. Tidak!, Andai dapat, ia tak ingin menyemai padi itu. Tapi, Ia lebih senang melihat padinya tersemai erat dalam dekapan jemari kasarnya daripada melihat padinya mati busuk.
Semua itu karena dia petani yang berbeda.
Ya, dia petani yang berbeda, bahkan sangat berbeda. Setidaknya menurutku.
Dia berasal dari keluarga berada. Bertani semata-mata hanya karena kecintaannya pada padi. Dia seorang yang pandai dan penuh kasih. Kau tau? dia rela manghabiskan tiap detik hidupnya untuk mencintai padi, untuk menjadi petani. Karena dia adalah pencinta. Ya, seorang pencinta sejati.
Dia rela bermigrasi ke sebuah kota kecil dipinggiran pulau jawa. Dimana dia mempunyai cukup lahan untuk memadu kasih bersama padi. Dimana setiap jengkal sore waktunya, ia habiskan untuk membagi kasih bersama senja dengan berdiri tegap di tepi pantai.
Aku selalu memperhatikan siluet indah yang dihasilkan bayang tegap tubuhnya. Aku selalu suka saat itu.
Tapi satu saat. Kau tau?. Ya, saat senja indah itu datang, dia tak pernah berdiri disana. Belakangan aku tau, dia pergi ke suatu tempat yang hanya dia yang tau.
Suatu sore, dia mengajakku. Saat itu cerah, tapi angin berhawa kering, dengan senang hati berhembus, membuatku enggan keluar rumah. tapi dia memaksa. Aku benci angin. Maka demi dia, aku rela menerobos angin kering yang seringkali membuatku flu itu. Dia membawaku menuju satu puncak bukit. Ya, dengan tergesa-gesa aku mengikuti langkah gesitnya. Rona wajah yang cerah, penuh semangat. Aku tak pernah tau apa yang akan kutemukan diatas sana. Mungkin hadiah?.
Aku pernah bertanya. Apa yang membuat senja ini begitu istimewa dimatamu?, dan  kenapa kau pilih tempat ini untuk menghabiskan senja yang kau bilang “istimewa” ?.
Dia hanya tersenyum. Lalu menjawab. Wajahnya berbinar, sungguh membuatku betah berlama-lama menatapnya. Tak lama, dia berkata, “untuk pertanyaan pertamamu, kurasa aku tak perlu menjawabnya. Sayang, alam dengan senang hati akan menjawab pertanyaanmu, cukup lihat dan rasakan, dan untuk pertanyaan kedua yang kau ajukan, aku tak akan menghabiskan senja istimewa ini dengan melakukan hal yang “biasa” , yang selalu kulakukan sepanjang sore, dan menghabiskan sore disini denganmu. menjadikan sore ini menjadi sangat istimewa.”
Awalnya aku anggap dia gila, tapi kegilaannya sungguh pesona terdahsyat yang dia miliki.
Ya, dia selalu benar. Bahkan untuk hal-hal kecil seperti ini. Dia benar.
“cukup kau lihat dan rasakan.” TEPAT!
Senja kali ini sama, tetapi tidak pada bias jingga. Bias jingga senja ini begitu cantik. Membuat segala benda yang ditempa biasnya menjadi jauh lebih cantik, dan tentu saja dia. Rona wajahnya terlihat jauh lebih indah dan jelas sekarang. Bukan siluet yang biasa ku lihat. Tapi sosoknya yang tegap.
Sejak saat itu, aku selalu kesana, tempat yang sangat biasa. Tapi tidak bagi kami, begitu juga untuk senja. Kau tau?, sejak saat itu, bahkan aku tak pernah membenci angin. Ya, sudah sepuluh tahun ini aku bersahabat dengannya. Tak peduli flu atau virus lain yang dia bawa. Yang ku tau sekarang Angin adalah kode untukku. Kode yang memberitahuku, untuk bergegas menaiki bukit lalu duduk disana, berdua dengannya. Menikmati senja istimewa.
Akulah satu-satunya wanita yang dapat mencuri separuh hatinya. Bukan dari wanita lain, tapi dari sang padi, dan aku bangga!. Kau tau itu.
Kami tak pernah memberi tempat itu nama. Tempat umum, tetapi inilah tempat rahasia yang kami miliki, dengan angin sebagai kode dan bayang senja jingga sebagai alasan, sekaligus tujuan.
Belakangan, aku tau. Aku akan memberi nama tempat ini Pandora. Ya, PANDORA.
Karena kecantikan ini telah merebut nyawanya. Nyawa seseorang yang kucinta.
Pada tahun ke 5 setelah kami berikrar janji setia, sungguh, tahun yang masih sangat menyenangkan untuk sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Dengan rona wajah menyenangkan yang selalu terpampang di wajahnya. Dia mengajakku kesana, keatas bukit  cinta, bukit rahasia kita. Hanya kita!!
Sore itu, seperti biasa, aku akan duduk tenang melihatnya bercerita, melihat tubuh kekarnya ditempa bayang jingga senja istimewa, dan selalu kunikmati gemerlap cahaya yang dipantulkan peluh oleh sang senja. Ya, dia selalu bahagia!, tapi selama kami hidup bersama, aku tak pernah melihat wajahnya sedemikian merona seperti hari ini. Dia berkata, kalau hari ini dia berhasil menyelamatkan lahan padi yang akan dijadikan pabrik produksi penghasil polusi.*
Ya, aku harus ingat bahwa aku hanya memiliki separuh hatinya, separuh lainnya adalah milik padi dan bayang jingga senja sore ini. Tapi aku tak pernah keberatan. Sungguh.
Wajahnya yang terlihat lelah, tapi terbungkus rona bahagia, ditambah tempaan bayang jingga istimewa terus bertutur cerita, soal detail-detail kejadian tadi siang. Selalu begitu, dan aku tak pernah sedikitpun bosan mendengarnya.
Tiba -tiba dia melihat sekuntum bunga. Sekuntum bunga yang menurutnya istimewa. Ya, dia selalu memberikanku sesuatu yang istimewa. Aku akan sangat bahagia. Tapi, sejujurnya bukan itu, hal teristimewa yang membuatku sangat bahagia yang pernah dia berikan padaku adalah separuh hatinya.
Bunga itu memang cantik, dengan warna putih bercampur ungu, lalu ada bunga ilalang lainnya berwarna warni, aku tak tahu kenapa selama 5 tahun aku mengunjungi tempat ini, aku baru menyadari kehadiran perdu-perdu itu, sangat cantik. Bunga ilalang cantik nan istimewa. Bagaimana tidak, dia tumbuh ditepi tebing curam.
Dia terus memperhatikan bunga itu.
“indah,” katanya
Aku hanya membalasnya dengan senyum, sungguh aku tak berharap dia mengambil bunga itu untukku. Aku lebih senang mendengarnya bercerita.  Dia tersenyum lalu mengecup dahiku dan berkata, “kau berhak mendapatkan sesuatu yang istimewa sayang.”
Entahlah. Perasaanku bercampur, aku selalu bahagia melihat detail gerak tubuhnya, begitu juga saat ini, hanya saja bunga itu tumbuh ditepi tebing curam.
Dia mencoba meraih bunga itu. Tiba-tiba batu-batu yang ia pijak bergemeretak. aku tau apa yang akan terjadi, maka kusegerakan untuk meraih tubuhnya, namun tak bisa. Aku sudah mencoba berlari sekuat yang ku bisa, namun tak teraih. Dia jatuh, tubuhnya terluka. Aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yang tersenyum, namun ada darah disana, bahkan terlalu banyak darah. Tuhan, seperti inikah caramu memisahkanku dengannya.
Aku merutuk diriku sendiri, merutuk bunga itu, merutuk bukit, bahkan bias jingga senja istimewa dan aku kembali membenci angin!
Satu malam. Dia hadir dalam mimpiku. Tetap dengan rona cerah yang selalu dia tautkan pada wajah rupawannya, aku rindu. Sungguh. Aku menangis. Aku peluk erat dia. Aku berkata pada diriku untuk tak membiarkannya pergi lagi dari hidupku. Lalu dia berbisik, suara yang sungguh ku rindu.
“sayang, maaf telah meninggalkanmu, akupun sungguh rindu. Usahlah kau keluarkan air matamu untuk meratapi kepergianku. Suatu saat aku akan menjemputmu untuk mengajakmu kembali hidup berdua. Sementara kau menunggu masa itu, apakah kau benar-benar ingin melupakanku. Selalu ku kirim angin sebagai kode agar kau segera menemuiku disana, dibukit rahasia kita, melihat bias jingga senja istimewa, menatap nyiur-nyiur padi yang merunduk. Tak rindukah engkau padaku sayang?”
Lalu aku melihat secercah cahaya. Aku kembali menangis, dia lenyap. Tak ada lagi sosoknya.
Andai aku dapat terus memeluknya erat, dapat meraihnya.
Aku sungguh sangat ingin bersamanya. Tak tahukah dia, selama lima tahun belakangan ini, aku digerogoti kesepian dan rasa rindu yang amat sangat. Lingkar hitam mataku kian hari kian tampak nyata. Tubuhku kini renta, kuhabiskan waktuku untuk menangisi kepergiannya. Bahkan padi itu, kian hari kian merunduk. Meratapi kepergiannya.
Tapi sore ini, aku sadar. Hanya angin, bukit, senja, dan padi yang dapat mengobati rinduku padanya. Pada dia yang kucinta. Karena sungguh aku sadar, separuh hatinya telah ia berikan pada mereka.
Sore ini, dia perintahkan angin kering untuk memberitahuku agar segera kesana, menuju bukit rahasia kita, untuk menikmati senja istimewa.
Setelah 5 tahun, inilah kalipertama aku kembali menginjakkan kaki dibukit rahasia kita. Dia telah berjanji untuk menemuiku disana. Sebisa mungkin aku bergegas. Aku berlari ke atas bukit, terperosok jatuh, tapi kembali berlari, tapi aku tak menemukan sosoknya disana. Aku sendiri.
***
Sore ini, setelah 10 tahun penantian, dan setelah ratusan kode angin yang dia kirimkan. Aku kembali kesana.  Selama 10 tahun terakhir aku terus menanti kehadiran lelaki itu.
Aku habiskan senja disana, dibukit rahasia. Tapi kali ini lebih istimewa. Aku menemukan sosoknya. Dia benar, dan selalu benar, dia selalu menepati janjinya.
Kembali ku peluk erat tubuh hangatnya, dan berkata,
“kali ini, dapatkah kau membawaku saja?, sungguh sayang, aku kesepian.”
Dia seperti biasa, hanya terseyum. Lalu berkata, “tentu saja sayang. Sudah terlalu lama aku meninggalkanmu.”
Dia menghapus bulir-bulir air mataku yang sudah tak terbendung lagi. 15 tahun sudah aku menanti kehadirannya.
Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku melihat jembatan indah dihias beribu bunga. Kau tau bunga apa itu?. Tepat, itu adalah perdu yang dia coba ambil untukku. Indah.
Dia membalas dekapanku dengan hangat, lalu berbisik
“mulai saat ini sayang, usahlah kau menanti angin kering yang membuatmu sakit, kita akan selalu dapat menikmati bias jingga senja istimewa bersama.”
Untuk terakhir kali, aku melihat bias jingga dibukit itu. Karena dia telah membawaku ke tempat yang jauh lebih istimewa.









You Might Also Like

1 komentar

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"