Blood Diamonds: Kenyataan Pahit Tentang Asal Usul Berlian (Part 1)

Pict credit: Source.co.zw

Pernah baca novelnya Paulo Coelho yang judulnya the winner stands alone nggak? Memang nggak seheboh The Alchemist  tapi selayaknya Paulo Coelho, disetiap tulisannya dia selalu ngajak kita berpikir lebih dalam dan kritis tentang kehidupan.

Selain salah satu tokoh utama pembantunya namanya mirip, Ewa (ditulis dalam bahasa Polandia) yang kalau dibaca dalam bahasa Indonesia adalah Eva, ada hal yang jauh lebih menarik dari pemaparan Coelho di novelnya yang satu itu (the winner stands alone), yaitu tentang blood diamonds. 

Dalam novelnya, Coelho nggak bahas banyak tapi cukup buat ngasih gambaran tentang kejadian blood diamonds dan bikin kita penasaran untuk cari tahu lebih lanjut.

Oh ya, hal terbaik dari baca karya penulis kawakan adalah, tulisannya selalu well-researched walaupun masuk kategori fiksi. Jadi bisa nambah banyak pengetahuan dengan cara yang asik.


Apa Itu Blood Diamonds?


Blood diamonds itu istilah yang dipakai buat menggambarkan konflik berlian yang berisi sejarah atau kenyataan pahit tentang asal-usul permata. 

Siapa sih didunia ini yang nggak suka permata? Apa lagi perempuan. Dari jaman kerajaan sampai sekarang, berlian selalu jadi tanda kesejahteraan dan kekayaan pemiliknya. Ah, dan satu lagi, permata itu identik dengan cinta. Makanya sering lihat kan biasanya kalau melamar, pihak laki-laki biasanya pasang cincin berlian dijari manis si cewe?

Tapi pernah berpikir nggak dari mana datangnya berlian cantik yang dijual (misal) oleh De Beers, ALROSA, atau Rio Tinto Diamonds?


Sejarah Blood Diamonds


Sebelum masuk konflik, kita flashback ke masa lalu atau sejarah berlian di Sierra Leone, salah satu negara Afrika. 

Tahun 1935, The Beers, perusahaan permata tertua dan terbesar didunia, secara legal telah menandatangani kontrak dengan pemerintah setempat untuk menambang berlian selama 99 tahun kedepan. Dengan adanya De Beers di Sierra Leone, pedagang Libanon yang ada di Sierra Leone melihat potensi besar jika bisa menjual berlian ke luar negeri secara ilegal.


Pict credit: Dailybeast


When moral decline and good man do nothing, evil flourishes. A society unwilling to learn from the past doomed. We must never forget our history, we must never loose our guard. - Leonardo DiCaprio

Tahun 1950-an pemerintah Sierra Leone meminta setiap investor asing menyediakan fasilitas keamanannya sendiri, yang secara tidak langsung menunjukkan ketidak pedulian terhadap industri tersebut. Pemerintah hanya meningkatkan keamanan didua distrik penghasil berlian, yaitu Freetown dan Kono. Hasilnya? perdagangan berlian ilegal meningkat. 

Ditambah lagi, tahun 1956, pemerintah mengadakan skema tambang aluvial. Skema yang membuat lebih dari 75.000 penambang lokal mendapatkan lisensi untuk pertambangan dan perdagangan. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan perdagangan ilegal berlian karena tidak dibarengi dengan sistem keamanan dan mekanisme perdagangan yang baik.

Tahun 1961, Sierra Leone merdeka. Industri berlian jadi masalah tersendiri disana, baik secara politik maupun ekonomi. 

Tahun 1968, Siaka Steven diangkat menjadi Perdana Menteri. Steven ini adalah orang pertama yang berhasil membuat industri pertambangan berlian jadi semacam penyokong kekuatan politik. Dia menasionalisasi pertambangan berlian dan De Beers dengan membuat BUMN yang bernama National Diamond Mining Co.

Saat itu Steven mengangkat Jamil Mohammed, Pebisnis Libanon, untuk mengatur segala urusan tentang pertambangan dan perdagangan berlian. Pada masa pemerintahannya, terjadi penurunan penjualan berlian legal secara drastis, dari 595.000 karat pada tahun 1970 menjadi 48,000 karat pada tahun 1980-an.

Setelah 17 tahun kepemimpinan Steven, akhirnya De Beers hengkang dari Sierra Leone dengan menjual sisa sahamnya ke Precious Metal Mining Co., yang dikontrol oleh Mohamed. Setahun kemudian, Joseph Momoh menggantikan Steven dan mulai memimpin pemerintahan di Sierra Leone. 

Sayangnya, dibawah pemerintahan Momoh, keadaan Sierra Leone semakin parah. Kemampuan kepemimpinan yang minim dan pemerintahan yang korup, juga peningkatan penjualan berlian akibat perdagangan bebas mendorong kemunculan kaum oposisi untuk bergerak dan berusaha menggulingkan pemerintahan Momoh.

Pada 23 Maret 1991, perang sipil di Sierra Leone dimulai dengan adanya invasi dari Revolutionary United Front (RUF) dibagian timur Sierra Leone. RUF adalah grup oposisi penyerang yang terdiri dari warga Sierra Leone dan Liberia.

BACA LANJUTANNYA KLIK >> Blood Diamond Part 2 (Aksi brutal RUF dalam sembilan tahun perang sipil di Sierra Leone)

__________________________
Sumber:
1. Stanford.edu
2. Realhistoryarchives
3. Paulziminsky
4. BBC
5. e-ir info
6. Columbia edu

You Might Also Like

3 komentar

  1. Kalo tentang berlian.. paling ingat lagunya wali band😂. Kalau Blood diamond yang versi
    Leonardo de capricorn😎 udah sering nonton.

    ReplyDelete
  2. Rata-rata jenis batu ini bikin mrigis kalau lihat harganya, coba kalau punya tambang sendiri... Kaya mendadak..

    Kunbal ya sob..

    ReplyDelete
  3. Bikin ngiler melihat harganya....

    ReplyDelete

semoga bermanfaat
mohon kritik dan saran yang membangun ya :D
"sharing is caring"